
Kira-kira 10menit kemudian ada beberapa teman gue yang menyanyikan lagu "Happy Birthday", otomatis teman yang lainpun turut menyanyikannya, walaupun gue yakin banyak dari mereka yang nggak tahu siapa yang sedang berulang tahun (sotoy dah!). Gue pun juga nggak mau ketinggalan makanya gue juga nyanyi. Tetapi, tiba-tiba dari bibir

Tiba-tiba semua teman gue yang lain bilang "Wooo! Astrid bohong!" (lohh2..kenapa jadi si Astrid yang disalahin? jelas-jelas informasi "palsu" itu kami dapat dari Helda & Dessy?). Dasar gue yang emang kata beberapa orang termasuk orang yang "spontaneous", gue juga menyalahkan Astrid, bahkan dengan "sedikit" sorokan. (sumpah strid! gue "nggak" bermaksud kayak getu! hehe..)
Langsung saja ada teman gue yang bilang "Lahh..bukannya Bapak ulang tahun?"..terus si Bapak bilang "Oiya2..saya memang ulang tahun!"..*hehh? sinting kali ye tuh orang?

Tiba-tiba..(jreng!), Mulut Pak Alisyah terbuka luas : panjang (baca: lebar). Kira-kira inilah yang beliau ucapkan:
si Bapak: Saya tidak pernah merayakan ulang tahun, karena saya selalu teringat dengan anak saya yang sudah almarhum.
Murid sekelas: *sing..hening!
si Bapak: Anak sayapun tidak pernah merayakan ulang tahun dari kecil, akan tetapi di saat dia akan berulang tahun yang ke-17 dia meminta pada saya untuk merayakan ulang tahunnya. Tapi saya tidak dapat mengabulkannya dan tak lama kemudian dia meninggal.
Murid sekelas: ..........
si Bapak: Makanya setiap saya ulang tahun, saya jadi ingat anak saya.
Tiba2..mata Pak Alisyah sudah berkaca-kaca menandakan (elo tau-lah). Sambil menghela nafas, beliau mencoba menentramkan hatinya yang sedang diselimuti duka. Murid sekelaspun sekarang nggak dapat berkata apa-apa. Apalagi gue, yang awalnya punya niat nggak baik, sekarang jadi malah bingung dan merasa iba atas cerita beliau itu. Mungkin, karena sudah nggak kuat membendung air matanya itu, beliau jadi punya cara untuk keluar kelas dengan menyuruh kami untuk mengerjakan soal-soal latihan yang ada di buku cetak. Setelah itu, beliau keluar kelas dan tentunya menangis.
Dari lubuk hati gue yang paling dalam dan luar, gue pengen bilang "Pak! Maafkan kami! karena kami yang nggak tahu apa-apa, jadi membuat Bapak bersedih hati! Maafkan kami ya Pak!"

0 komentar:
Posting Komentar